Menulis Teks Esai
Judul : Varian Omicron Meradang, Bagaimana Nasib PTM Terbatas?
Penulis : Rianti Maryana
Varian Omicron Meradang, Bagaimana Nasib PTM Terbatas?
Akhir November lalu, WHO mengumumkan adanya varian baru virus SARS-COV-2 yang disebut dengan Omicron. Varian ini pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada tanggal 24 November 2021. Selain Afrika Selatan, beberapa negara yang mengonfirmasi adanya kasus varian B.1.1.529 adalah Inggris, Kanada, Hongkong, Botswana, Australia, Italia, Belgia, dan Republik Ceko. Selain itu, varian ini juga kemungkinan sudah masuk ke negara Jerman, Denmark, Belanda, dan Austria.
Varian Omicron memiliki sekitar 30 kombinasi mutasi dari sejumlah varian COVID-19 sebelumnya seperti C.12, Beta dan Delta. Mutasi pada spike protein yang dimiliki Omicron dikhawatirkan akan membuat virus lebih cepat menular dibanding varian Delta dan memungkinkan terjadinya reinfeksi atau infeksi berulang.
Kemunculan varian baru ini menimbulkan kekhawatiran, termasuk bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia. Kasus pertama varian Omicron ditemukan pada pekerja kebersihan Wisma Atlet. Setelah pengumuman pasien pertama, Kementerian Kesehatan kembali melaporkan adanya dua kasus varian baru Omicron di Indonesia. Kedua pasien tersebut memiliki riwayat ke luar negeri yakni dari Amerika Selatan dan Inggris.
Akibatnya, kini Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kembali terancam karena munculnya klaster terbaru. Setelah sekian lama menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan akhirnya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas terlaksana walau sempat terhenti karena adanya isu-isu dan penularan berkala di sekolah. Memang banyak dampak positif maupun negatif yang dapat kita ketahui dari masing-masing nya.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengatakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas tetap berjalan kendati penyebaran Covid-19 varian Omicron semakin meradang. Menteri lain berpendapat bahwa mereka khawatir jika siswa akan kehilangan keterampilan belajar atau learning loss bila Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tidak digelar. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi alternatif yang dapat dilakukan selama pandemi COVID-19 tidak berjalan efektif.
Lantas di dalam kondisi yang seperti ini, apakah kita masih punya harapan? Skala perubahan yang terjadi pada saat ini, serta sifatnya yang begitu tiba-tiba, jauh melampaui kemampuan anak untuk memahami apa yang telah terjadi saat ini dan bagaimana cara menghadapinya.
Pendidikan merupakan tonggak dan landasan utama penentu masa depan. Pendidikan juga merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri. Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di wilayah kota memang berjalan dengan baik, tapi bagaimana dengan yang di wilayah pedesaan hingga pelosok? Apakah pembagian fasilitas ada? Dan apakah itu merata atau malah dana di tilap? Kenyataannya, keterbatasan fasilitas pendidikan dan kesehatan dirasakan oleh masyarakat di daerah-daerah terpencil dan terpelosok.
Di masa seperti ini yang terpenting adalah bagaimana proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas agar dapat berjalan dengan maksimal bersamaan dengan keselamatan dan kesehatan seluruh warga sekolah. Dibutuhkan kolaborasi dan kerjasama antara orang tua, guru, komite, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Di samping itu, guru pun dituntut untuk mampu mengadirkan dan menjalankan proses belajar mengajar yang maksimal dan menjadi pembimbing juga pendamping kedisiplinan menjalani protokol kesehatan.
Komentar
Posting Komentar