Merancang Teks Editorial

 

Judul    : Paradigma Kesehatan Mental dan Psikologis Remaja di Masa Pandemi

Penulis : Rianti Maryana


Paradigma Kesehatan Mental dan Psikologis Remaja di Masa Pandemi

 

Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, keduanya memiliki keterlibatan satu sama lain, bilamana seseorang terganggu fisiknya maka bisa dibilang ia terganggu kesehatan mental atau psikisnya. Sehat dan sakit merupakan kondisi biopsikososial yang menyatu dalam kehidupan manusia.

Menurut WHO, kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.

Di masa pandemi saat ini, banyak dari anak-anak dan para remaja yang kesehatan mental juga psikis nya terganggu. Dimulai dari masalah terkait banyaknya tugas, ekonomi keluarga yang terganggu, hingga faktor keserasian keluarga yang terpecah belah. Penelitian di Jerman menyebut, sebanyak 2/3 remaja berusia 7-17 tahun memiliki quality of life yang lebih rendah dibandingkan sebelum ada pandemi.

UNICEF menjelaskan bahwa berdasarkan data terbaru, diperkirakan terdapat lebih dari 1 dari 7 remaja berusia 10-19 tahun di dunia yang hidup dengan diagnosis gangguan mental. Setiap tahun, tindakan bunuh diri merenggut nyawa hampir 46.000 anak muda – tindakan ini adalah satu dari lima penyebab utama kematian pada kelompok usia itu. Akan tetapi, masih terdapat kesenjangan besar antara kebutuhan untuk mengatasi masalah kesehatan mental dengan pendanaan yang tersedia. Laporan tersebut menemukan bahwa, secara global, anggaran kesehatan yang dialokasikan untuk kesehatan mental hanya mencapai 2 persen.

Banyak psikolog yang memanfaatkan situasi pandemi ini menjadi ladang mereka untuk mencari ‘cuan’. Padahal, seharusnya para psikolog juga pemerintah baik Kemenkes maupun KPAI bekerja sama untuk mengatasi masalah ini.

Menurut UNICEF, meskipun dampak gangguan mental terhadap kehidupan seorang anak tidak mungkin dihitung, analisis baru London School of Economics yang disajikan laporan tersebut mengindikasikan bahwa hilangnya kontribusi akibat gangguan mental yang menyebabkan disabilitas atau kematian di kalangan anak muda diperkirakan bernilai hampir $390 miliar per tahun.

Saat kesehatan mental remaja tertekan, bisa dilihat tanda-tandanya seperti terlihat tidak bersemangat, nafsu makannya berkurang, pola tidurnya terganggu/susah tidur, dan juga khawatir yang berlebihan.

Yang bisa dilakukan untuk mengatasi kesehatan mental remaja dengan memberikan pengertian pada remaja untuk bisa menyadari bahwa kecemasannya adalah hal yang wajar. Kecemasan yang dialami remaja adalah fungsi normal dan sehat yang bisa membuat kita waspada terhadap ancaman, dan membantu kita untuk mengambil tindakan untuk melindungi diri.

Mencari informasi yang benar dari sumber terpercaya, mengurangi bermain sosial media, serta membatasi menonton/melihat berita tentang Virus Corona juga bisa mengurangi kecemasan yang dirasakan pada remaja. Sebisa mungkin orangtua bisa menjadi teman berbagi bagi remaja. Dan beri ruang bagi remaja untuk terbuka soal perasaan khawatirnya kepada orangtua.

Komentar

  1. Lisnawati Putri A (XII MIPA 1)
    Teks editorial yang dibuat oleh Rianti sudah hampir sempurna. Strukturnya lengkap, bahasa yang digunakan mudah dipahami, serta isu yang diangkat juga isu yang sedang melekat pada masyarakat. Namun, ditemukan pemborosan kata seperti "serta berperan serta" tetapi tidak membuat teks ini menjadi aneh atau rumpah untuk dibaca.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kearifan Lokal Gunungkidul

Menyusun Artikel