Kearifan Lokal Gunungkidul
Jathilan Gunungkidul:
Menari di Ujung Irama dan Ambang Batas Kesadaran Diiringi Alat Musik
Oleh Rianti Maryana
Jathilan Padukuhan | Sumber: Koleksi Foto Kalurahan Botodayaan
Gunungkidul
merupakan sebuah Kabupaten yang terletak di Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakkarta. Gunungkidul dikenal sebagai daerah dengan perbukitan kapur.
Perbukitan kapur tersebut merupakan karang-karang dan batuan gamping. Hal tersebut merupakan bukti
bahwa Gunungkidul merupakan lautan yang menyimpan banyak sejarah.
Di
Kabupaten Gunungkidul tersemat sebuah kearifan lokal berupa kesenian rakyat
yang dikenal sebagai Jathilan. Jathilan merupakan sebuah kesenian rakyat yang
hampir sama seperti tarian kuda lumping yang berasal dari Jawa Barat. Hal
tersebut dapat dilihat dari properti utama yang digunakan, yaitu kuda. Jathilan
sendiri berasal dari kalimat “jaranne
thil-thillan tenan” Kedua kesenian tersebut sama-sama memiliki klimaks
adegan yang tak terkendali hingga melakukan adegan di bawah kesadaran. Pada
Jathilan, pelepasan energi tak terkendali saat penari memasuki kondisi trance atau yang biasa disebut ndadi. Jathilan
dianggap sebagai kesenian rakyat yang menampilkan adegan kasar karena menampilkan adegan kesurupan (ndadi), seperti memakan kaca, berjalan
di atas api, atau bergelantungan di tiang panggung tempat mereka menari. Hal
inilah yang membuat Jathilan kerap dikaitkan dengan unsur-unsur mistis.
Jika
dilihat dari pandangan masyarakat umum,
Jathilan merupakan sebuah tontonan dengan menyajikan visuak atau atraksi yang liar dan di
luar kendali. Namun, bagi mereka yang
mendalami, Jathilan menjadi sebuah perantara dalam
melakukan dialog mendalam antara
raga, spiritualitas, dan yang terpenting, musik. Alat musik yang digunakan dalam Jathilan beragam hingga menghasilkan
instrumen yang terbilang cukup kompleks. Alat musik yang digunakan antara lain
gamelan, kendang, angklung, bende, kecer, dan dodog. Iringan Gamelan, Kendang dalam Jathilan bukanlah sekadar latar belakang suara, melainkan komandan yang memberi perintah, dan jembatan yang
menghubungkan dimensi sadar dengan dimensi spiritual. Tanpa harmonisasi yang
presisi dari karawitan, transisi dramatis Jathilan tidak akan pernah terjadi.
Gamelan
memiliki fungsi utama sebagi alat hipnosis. Menurut
kajian yang dilakukan Jiwandono, dkk. (2023), pola iringan Jathilan bersifat berulang (repetisi). Pola irama yang berulang dihasilkan dari tabuhan bende
dan kendang. Kedua alat musik tersebut menjadi pijakan iringan musik dan gerak
tari. Selain itu, pengulangan motif instrumen yang intens yang dihasilkan
dari kecer yang berbunyi nyaring dan cepat menarik kesadaran
penari keluar dari fokus dunia nyata. Pola repetisi menjadi penanda peralihan ritmis dan adegan liar
datang. Tanpa pondasi ritmis tersebut, trance atau ndadi yang terjadi mungkin tidak akan menjadi liar, musik mulai bergerak menuju tujuannya yang lebih dalam, yaitu untuk memanggil roh.
Jika gamelan adalah mesinnya, maka kendang adalah operatornya. Kendang
dalam Jathilan Gunungkidul memegang otoritas absolut sebagai komandan musikal. Peran komando kendang terwujud paling jelas
dalam proses transisi. Ketika Warok (pawang) sebagai pemimpin spiritual
telah menilai bahwa energi di panggung sudah matang, ia akan memberi sinyal
kepada penabuh kendang. Sinyal inilah yang memicu perubahan dramaturgis
terbesar, yaitu perubahan tempo secara
drastis.
Alat musik dan irama yang dihasilkan dalam Jathilan Gunungkidul mengajarkan bahwa musik
tradisional tidak selalu tentang melodi, tetapi fungsi. Jathilan sebagai contoh
nyata karawitan bertransformasi menjadi sebuah pemindah suasana hati, pemanggil roh, pengendali chaos,
dan pada akhirnya sebagai obat/penyembuh. Instrumen yang dihasilkan menyusun harmonisasi antara kendang
dan bende sebagai komandan yang
memimpin transisi tempo
dan gamelan sebagai mesin repetisi yang membangun fondasi
hipnosis, adalah kunci yang membuka kunci spiritualitas pada Jathilan. Kesenian rakyat ini terus bertahan dan dilestarikan, bukan hanya karena gerak visual kudanya yang
menarik, tetapi karena kekuatan tak terlihat dari irama yang memandu penari
untuk menari di ujung batas kesadaran. Warisan ini adalah pengingat akan
kekayaan kearifan lokal Jawa, di mana seni dan ritual bekerja bersama dalam
satu harmoni yang magis.
Referensi:
Jiwandono, R. S., Rahdiyatmi, S., Jatilinuar, K., &
Saepudin, A. (2023). MULIH : IDENTITAS JATHILAN DALAM KOMPOSISI Mulih :
Identity Jathilan in Karawitan Composition. 17(1).
Namira, N. A., & Hafizhah, H.
(2025). Jathilan: Menjaga Ruh Tradisi di Tengah Riuh Modernisasi. EQ News
Jogja.
https://wartaeq.com/jathilan-menjaga-ruh-tradisi-di-tengah-riuh-modernisasi/
Komentar
Posting Komentar